Sebelum
masuk bulan ramadhan, pasar modal juga terdampak akibat adanya pandemi
covid-19. Kondisi pandemi Covid-19 tidak hanya memukul bursa saham global saja,
namun juga di Indonesia. Beragam upaya dan cara untuk memulihkan sektor pasar
modal terus dilakukan hingga saat ini.
Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hasan
Fauzi mengatakan risiko yang kerap kali diproyeksikan oleh sejumlah investor
dan analis pasar modal adalah potensi resesi dan krisis ekonomi. Walau
demikian, BEI terus berupaya menjaga keselarasan dengan menciptakan pasar yang
berintegritas dan sehat.
“Kondisi
dan isu utama secara global dan domestik, adalah penyebaran Covid-19 yang sudah
menjadi pandemi, ini nantinya akan berlanjut pada krisis ekonomi karena terjadi
perlambatan ekonomi, dari mulai permintaan seperti komoditi, barang mentah,
barang setengah jadi, amupun produk jadi, yang menurun drastis,” ujar Hasan
dalam konferensi virtual, Jakarta, Selasa (28/7/2020).
Menurutnya
prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bloomberg sebesar -0,5 persen
memang merupakan penurunan yang drastis, dibanding sebelumnya yang berada pada
kisaran 5 persen. Namun prediksi untuk Uni Eropa lebih terpukul lagi yakni -7,7
persen.
“Beberapa
negara masuk resesi di mana pada quartal II-2020 ini dengan angka GDP tumbuh
negatif, seperti Singapura, Korea Selatan dan Jepang. Negara Eropa juga satu
demi satu masuk resesi, seperti Italia, Prancis dan Jerman,” ucapnya.
Direktur
PT. Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menjelaskan kondisi krisis saat ini
tentunya berbeda dari pola krisis sebelumnya di tahun 1998 dan tahun 2008. Pada
1998, saat episentrum krisis di Asia, sektor UMKM bergeliat sehingga tidak
berpengaruh pada usaha kecil, namun perusahaan besar yang mengalami masalah.
Sementara
pada 2008, episentrum pusat krisis ada di AS, sehingga Indonesia tidak terlalu
berpengaruh.
“Tahun
2020 krisis datang dari kesehatan, sebenarnya ekonomi tidak ada masalah yang
cukup berarti tapi (masalah) kesehatan memukul ekonomi,” kata Hans.
Meski
begitu ia menilai beragam kebijakan yang dilakukan telah menyelamatkan pasar
modal. Misalkan saja kebijakan buyback saham tanpa RUPS.
“Kebijakan
otoritas yang pertama kita lihat buyback saham tanpa melakukan RUPS. Ini bagus
karena dengan kebijakan ini akan menguntungkan perusahan di masa depan,” kata
dia.
Selain
itu, untuk meningkatkan investasi di pasar modal, kebijakan yang dilakukan
sebagai bentuk pro pasar adalah Auto Reject Asymmetries yang berhasil meredam
penurunan saham lebih tinggi lagi. Bahkan penurunan saham domestik lebih
sedikit dibandingkan kawasan lain.
Ada
juga kebijakan pelarangan short selling itu yang berpotensi mengancam
pergerakan harga saham, karena aksi ambil untung di tengah kepanikan pasar.
Selain itu ada juga trading halt yang menghalau harga saham turun terlalu jauh.
Selanjutnya
Hans menilai aksi bersih-bersih pasar modal juga cukup baik, karena sedikit
mampu meminimalisir tindakan manipulasi pasar.
“Pasar
modal seharusnya senang dengan aksi bersih-bersih pasar. Walaupun membuktikan
manipulator pasar tidak mudah, tapi pelaku pasar seharusnya bisa jeli karena
berbeda kondisinya dengan tahun 1998 dan 2000-an yang mana keterbukaan
informasi terbatas. Sekarang data terbuka dan bisa langsung akses. Pasar bisa
mencermati di sana, dengan begitu investor bisa ter-edukasi,” kata dia.
Bagaimana
Pengaruh Bulan Ramadhan Pada Pasar Modal ?
Ramadan dan lebaran tahun 2021, Pemerintah
berkomitmen untuk lebih mendorong pemulihan ekonomi, sekaligus tetap melakukan
penanganan Covid-19 secara ketat. Pemerintah menjadikan Ramadan dan Lebaran
Idul Fitri tahun 2021 ini sebagai momentum untuk mengungkit ekonomi di kuartal
II-2021, dengan tetap menjaga pengendalian pandemi Covid-19.
“Bapak
Presiden meminta kebijakan pengendalian segera dilaksanakan dan Pemerintah
melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sudah
menyampaikan pemberitahuan adanya larangan/ peniadaan mudik. Selain itu, juga
sudah disiapkan Surat Edaran dari Menteri Agama yang mengatur berbagai kegiatan
keagamaan selama bulan Ramadan,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Airlangga Hartarto sesaat setelah dilakukan Sidang Kabinet Paripurna, Rabu
(7/4), di Jakarta.
Menjelang
lebaran, Pemerintah juga akan mempercepat penyaluran target output Perlindungan
Sosial (PKH, Kartu Sembako, Bansos Tunai dll) yang belum terpenuhi di Q1, untuk
direalisasikan pada April s.d. awal Mei. Memajukan pencairan Kartu Sembako dari
Juni ke awal Mei (sebelum Lebaran) serta penyaluran program Perlinsos lainnya,
diperkirakan akan berpotensi meningkatkan realisasi sebesar Rp14,12 triliun.
Pembatasan
kegiatan masyarakat melalui peniadaan mudik di masa liburan lebaran idul fitri
ini, diyakini akan efektif mengendalikan laju kasus Covid-19, namun di sisi
lain akan berpotensi menyebabkan kontraksi pertumbuhan ekonomi, sebagaimana
pengalaman di tahun lalu yang menyebabkan komtraksi terdalam pada kuartal
II-2020.
Selain
itu, Pemerintah juga akan menyalurkan Bansos Beras bagi masyarakat selama
Ramadan, melalui program Penyaluran Bantuan Beras sebesar @10kg untuk para
Penerima Kartu Sembako. Penyaluran akan dilakukan pada akhir bulan Ramadan
(pada masa Peniadaan Mudik berlaku).
“Pada
akhir bulan Ramadan, saat peniadaan mudik dan pembatasan kegiatan masyarakat,
Pemerintah telah menyiapkan program untuk mendorong konsumsi masyarakat, yang
dibarengi dengan berbagai program untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
Diharapkan melalui kebijakan ini, akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di
kuartal II-2021” pungkas Airlangga. (kun/mhm/fsr)