Friday, April 30, 2021

kinerja pasar modal dibulan ramadhan

Sebelum masuk bulan ramadhan, pasar modal juga terdampak akibat adanya pandemi covid-19. Kondisi pandemi Covid-19 tidak hanya memukul bursa saham global saja, namun juga di Indonesia. Beragam upaya dan cara untuk memulihkan sektor pasar modal terus dilakukan hingga saat ini.

 Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hasan Fauzi mengatakan risiko yang kerap kali diproyeksikan oleh sejumlah investor dan analis pasar modal adalah potensi resesi dan krisis ekonomi. Walau demikian, BEI terus berupaya menjaga keselarasan dengan menciptakan pasar yang berintegritas dan sehat.

“Kondisi dan isu utama secara global dan domestik, adalah penyebaran Covid-19 yang sudah menjadi pandemi, ini nantinya akan berlanjut pada krisis ekonomi karena terjadi perlambatan ekonomi, dari mulai permintaan seperti komoditi, barang mentah, barang setengah jadi, amupun produk jadi, yang menurun drastis,” ujar Hasan dalam konferensi virtual, Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Menurutnya prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bloomberg sebesar -0,5 persen memang merupakan penurunan yang drastis, dibanding sebelumnya yang berada pada kisaran 5 persen. Namun prediksi untuk Uni Eropa lebih terpukul lagi yakni -7,7 persen.

“Beberapa negara masuk resesi di mana pada quartal II-2020 ini dengan angka GDP tumbuh negatif, seperti Singapura, Korea Selatan dan Jepang. Negara Eropa juga satu demi satu masuk resesi, seperti Italia, Prancis dan Jerman,” ucapnya.

Direktur PT. Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menjelaskan kondisi krisis saat ini tentunya berbeda dari pola krisis sebelumnya di tahun 1998 dan tahun 2008. Pada 1998, saat episentrum krisis di Asia, sektor UMKM bergeliat sehingga tidak berpengaruh pada usaha kecil, namun perusahaan besar yang mengalami masalah.

Sementara pada 2008, episentrum pusat krisis ada di AS, sehingga Indonesia tidak terlalu berpengaruh.

“Tahun 2020 krisis datang dari kesehatan, sebenarnya ekonomi tidak ada masalah yang cukup berarti tapi (masalah) kesehatan memukul ekonomi,” kata Hans.

Meski begitu ia menilai beragam kebijakan yang dilakukan telah menyelamatkan pasar modal. Misalkan saja kebijakan buyback saham tanpa RUPS.

“Kebijakan otoritas yang pertama kita lihat buyback saham tanpa melakukan RUPS. Ini bagus karena dengan kebijakan ini akan menguntungkan perusahan di masa depan,” kata dia.

Selain itu, untuk meningkatkan investasi di pasar modal, kebijakan yang dilakukan sebagai bentuk pro pasar adalah Auto Reject Asymmetries yang berhasil meredam penurunan saham lebih tinggi lagi. Bahkan penurunan saham domestik lebih sedikit dibandingkan kawasan lain.

Ada juga kebijakan pelarangan short selling itu yang berpotensi mengancam pergerakan harga saham, karena aksi ambil untung di tengah kepanikan pasar. Selain itu ada juga trading halt yang menghalau harga saham turun terlalu jauh.

Selanjutnya Hans menilai aksi bersih-bersih pasar modal juga cukup baik, karena sedikit mampu meminimalisir tindakan manipulasi pasar.

“Pasar modal seharusnya senang dengan aksi bersih-bersih pasar. Walaupun membuktikan manipulator pasar tidak mudah, tapi pelaku pasar seharusnya bisa jeli karena berbeda kondisinya dengan tahun 1998 dan 2000-an yang mana keterbukaan informasi terbatas. Sekarang data terbuka dan bisa langsung akses. Pasar bisa mencermati di sana, dengan begitu investor bisa ter-edukasi,” kata dia.

Bagaimana Pengaruh Bulan Ramadhan Pada Pasar Modal ?

 Ramadan dan lebaran tahun 2021, Pemerintah berkomitmen untuk lebih mendorong pemulihan ekonomi, sekaligus tetap melakukan penanganan Covid-19 secara ketat. Pemerintah menjadikan Ramadan dan Lebaran Idul Fitri tahun 2021 ini sebagai momentum untuk mengungkit ekonomi di kuartal II-2021, dengan tetap menjaga pengendalian pandemi Covid-19.

“Bapak Presiden meminta kebijakan pengendalian segera dilaksanakan dan Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sudah menyampaikan pemberitahuan adanya larangan/ peniadaan mudik. Selain itu, juga sudah disiapkan Surat Edaran dari Menteri Agama yang mengatur berbagai kegiatan keagamaan selama bulan Ramadan,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sesaat setelah dilakukan Sidang Kabinet Paripurna, Rabu (7/4), di Jakarta.

Menjelang lebaran, Pemerintah juga akan mempercepat penyaluran target output Perlindungan Sosial (PKH, Kartu Sembako, Bansos Tunai dll) yang belum terpenuhi di Q1, untuk direalisasikan pada April s.d. awal Mei. Memajukan pencairan Kartu Sembako dari Juni ke awal Mei (sebelum Lebaran) serta penyaluran program Perlinsos lainnya, diperkirakan akan berpotensi meningkatkan realisasi sebesar Rp14,12 triliun.

Pembatasan kegiatan masyarakat melalui peniadaan mudik di masa liburan lebaran idul fitri ini, diyakini akan efektif mengendalikan laju kasus Covid-19, namun di sisi lain akan berpotensi menyebabkan kontraksi pertumbuhan ekonomi, sebagaimana pengalaman di tahun lalu yang menyebabkan komtraksi terdalam pada kuartal II-2020.

Selain itu, Pemerintah juga akan menyalurkan Bansos Beras bagi masyarakat selama Ramadan, melalui program Penyaluran Bantuan Beras sebesar @10kg untuk para Penerima Kartu Sembako. Penyaluran akan dilakukan pada akhir bulan Ramadan (pada masa Peniadaan Mudik berlaku).

“Pada akhir bulan Ramadan, saat peniadaan mudik dan pembatasan kegiatan masyarakat, Pemerintah telah menyiapkan program untuk mendorong konsumsi masyarakat, yang dibarengi dengan berbagai program untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Diharapkan melalui kebijakan ini, akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2021” pungkas Airlangga. (kun/mhm/fsr)

 

kinerja pasar modal dibulan ramadhan

Sebelum masuk bulan ramadhan, pasar modal juga terdampak akibat adanya pandemi covid-19. Kondisi pandemi Covid-19 tidak hanya memukul bursa ...